“Hasil tidak pernah menghianati proses”

—Anonim—

Mungkin kutipan tersebut layak menjadi latar alasan kenapa ada banyak ajang penganugerahan di Indonesia. Setiap bidang industri pasti memiliki ajang penganugrahannya masing-masing. Anugrah ini diberikan sebagai tanda perjuangan, eksistensi, dan tentunya untuk membuat industri tersebut terus bergairah.

Dari sekian banyak penganugrahan sampai saat ini industri hiburan, dan marketing adalah dua bidang yang ajangnya paling digadang-gadang karena disiarkan langsung, bertropi mengkilat, dan beralas karpet merah. Baik ajang itu diselenggarakan lembaga atau perusahaan, baik yang tanyang secara live di televisi atau tidak, baik yang barhadiah pundi atau hanya sekedar tropi,  tapi sebuah anugrah tetaplah anugrah bagi sang penerima karena piala tersebut bukan hanya sekedar lambang prestasi tapi juga keberadaan diri yang diakui. Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi) sebagai asosiasi nonprofit kumpulan penerbit se-Indonesia setiap tahunnya setia memberikan apresiasi bagi para penggerak literasi di Indonesia.

Sejak 2010 bahkan sebelum ada istilah international di pameran buku akbar Indonesia Book Fair, Ikapi setia memberikan anugrah tinggi bagi para penggiat literasi yang dikenal dengan Ikapi Awards. Tentu belum bisa dibilang mewah, belum ada penamaan kategori tetap tiap tahunnya untuk julukan bagi para pejuang literasi yang hendak diberi apresiasi. Tapi, secara konsisten Ikapi sadar bahwa laut perbukuan yang kadang pasang surut tetap memiliki ombak gairah karena dukungan dan semangat banyak pihak menggalakan budaya literasi.

Budaya literasi menjadi bahan cukup populer kini terlebih setelah mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedang mendengungkan Gerakan Literasi Bangsa, hilir dari Gerakan Literasi Sekolah, di mana salah satu kegiatannya adalah gerakan membaca (buku nonpelajaran) 15 menit sebelum belajar. Gerakan literasi masif, walau kata itu sebenarnya tidak ada di Kamus Besar Bahasa Indonesia. Literasi semula hanya bermakna kemampuan membaca dan menulis berdasarkan 7th Edition Oxford Advanced Learner’s Dictionary, 2005:898.

Kini letarasi dimaknai lebih luas dan dalam, bukan hanya membaca tapi lebih kepada daya baca bagaimana seseorang memahami apa yang tengah ia baca, dan turut menyeret nilai kesusastraan. Membiasakan kembali masyarakat Indonesia pada budaya literasi baik yang bermakna dalam atau tidak sepertinya pekerjaan agak alot, dalam sejarah yang terkenal adalah rodi dan romusha atau devide et impera. Kurang bisa dipastikan selain tokoh bangsa apakah rakyat Indonesia secara umum memang dulunya suka membaca atau tidak, entah, yang pasti membaca diyakini sebagai pencetak generasi anti kopong.

Tahun inipun kembali Ikapi Awards dibagi kepada para toko yang membuat industri perbukuan dan semangat literasi menyalak lagi. Ada perjalanan panjang, perundingan alot, dan perdebatan kecil atara para juri perwakilan penerbit yang juga anggota Ikapi pastinya. Sampai akhirnya turun serupa wahyu, tiga kategori Ikapi Awar dalam Indonesia International Book Fair 2016, yakni:

  1. Writer of The Year : Tere Liye
  2. Book of The Year : Intelegensi Embun Pagi (Dee Lestari)
  3. Literacy Promoter : Anies Baswedan

“Terima kasih kepada IKAPI, Tere Liye yang sebenarnya adalah laki-laki, dan tidak bisa hadir. Dia menitipkan pesan, ‘Pertama-tama saya ingin memohon maaf karena tidak bisa datang, saya berterimakasih kepada IKAPI. Saya hendak mengucapkan terimakasih kepada para pembaca buku Tere Liye. Jayalah buku-buku Indonesia,”

—Gramedia Publishing a/n Tere Liye—

“Buku ini adalah penutup dari serial Supernova yang sudah saya kerjakan selama 15 tahun terakhir dan penghargaan ini menjadi sebuah hadiah yang manis. Terima kasih juga untuk Tim dari Bentang Pustaka yang sudah membidani lahirnya IEP, keluarga saya, suporter saya nomor satu yang sekarang diwakili oleh suami saya Reza Gunawan. Satu lagi yang tidak kalah penting, para pembaca saya, Addeection dan seluruh pembaca di Indonesia.  Saya harap Internasional Book Fair yang dilakukan oleh Indonesia pada tahun ini akan menjadi momentum bagi literasi Indonesia,“

—Dee Lestari—

 

 “Sebuah kehormatan. Saya merasa apa yang kami kerjakan sudah selayaknya dikerjakan dari Kemendikbud. Di luar sana ada lebih dari enam ribu taman bacaan. Mereka adalah promotor literasi sesungguhnya. Saya hanya mewakili mereka, kita memiliki tanggung jawab moral tentang minat baca dan daya baca. Kita membutuhkan Indonesia yang memiliki daya baca tinggi dan memiliki karya-karya literatur yang mendunia,”

—Anies Baswedan—

Terima kasih atas dedikasi dan kesungguhan, terima kasih atas karya membuat para pembaca dimabuk mimpi, terima kasih atas penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar bukan sekedar kaku dan formal, terima kasih atas gagasan, ide, dan kebijakan cemerlang. Ikapi Awards menghaturkan terima kasih yang dalam untuk setiap makluk di lautan perbukuan Indonesia yang luas dan dalam.

 

Sampai bertemu di Ikapi Awards 2017 dalam Indonesia International Book Fair 2017!

Share This